Kamis, 24 Februari 2011

Musim Panas dan Musim Dingin

Karena Allah membuat tumbuh-tumbuhan bertumbuh pada musim panas dan tidur (tidak berkembang) di musim dingin, maka Ia dengan sendirinya membuat manusia bertumbuh dengan cepat dari hasil kebun yang segar selama musim panas dan dari hasil kebun yang kering selama musim dingin. Dari kenyataan bahwa tidak ada pohon yang dapat hidup dengan baik tanpa daun-daun itu selama musim dingin, kembali menunjukkan bahwa manusia tidak mungkin dapat hidup dengan baik jika ia lalai membuat makanannya dari hasil kebun yang segar selagi dalam musim-nya, tetapi ia dapat hidup dengan baik sekali dengan bahan-bahan makanan kering musim dingin, apabila makanan segar dari musim panas sudah berlalu.

Lagi pula, karena Tuhan sejak mulanya tidak menyediakan fasilitas-fasilitas transportasi seperti yang ada sekarang, tidak memungkinkannya bagi manusia untuk mengimpor atau mengekspor bahan-bahan makanan dari suatu tempat yang jauh ke tempat lainnya, maka Ia membuat manusia itu bertumbuh subur dari apa saja yang dapat dihasilkan di tempatnya sendiri atau di tempat yang terdekat dengan tempatnya. Oleh sebab itu, maka baginya semua makanan yang tumbuh di tempat lain menjadi nomor dua, dan makanan-makanan yang tidak ada dalam musimnya tidak dibutuhkannya. Dengan perkataan lain, jika hasil yang segar merupakan yang terbaik bagi kesehatan orang dalam musim panas, maka hasil yang kering adalah yang terbaik baginya dalam musim dingin, asalkan ia tinggal dimana hasil segar juga bertumbuh secara alamiah di musim dingin.

Dari pemikiran-pemikiran ini orang dapat menyimpulkan secara logis, bahwa orang yang tinggal di iklim yang panas memerlukan lebih banyak makanan-makanan segar, namun orang yang tinggal dalam iklim yang dingin memerlukan lebih banyak makanan-makanan kering, makanan yang diawetkan, yang disarikan, makanan-makanan hasil pemanasan. Orang yang berbuat sebaliknya, adalah seolah-olah menghembuskan tungku pemanas rumahnya sepanas-panasnya dalam musim panas dan menghembuskan sistem pendingin rumahnya sedingin-dinginnya di musim dingin. Bukankah aneh bahwa seseorang yang merusakkan tubuhnya sedemikian ini dapat hidup lama sepanjang semuanya itu? Jika sebatang pohon yang berganti daun, sekiranya mungkin, menggunakan daun-daunnya di musim panas, atau memakai daun-daunnya di musim dingin, maka ia itu tidak akan pernah lagi memperoleh kesempatan untuk mencoba sesuatu ide untuk istirahat.

Dalam zaman transportasi non mesin hanya seorang “penguasa” yang dapat memperoleh bahan-bahan makanan di luar musim : buah-buah arbei, buah cheri dan sebagainya, sewaktu hujan salju yang tiba-tiba menutupi pohon-pohon dan untaian tetesan air yang membeku merentang dari atap sampai ke tanah.

Dengan mengingat akan hal ini, maka Ilham mengingatkan “Apabila engkau duduk makan bersama-sama dengan seorang penguasa, perhatikanlah baik-baik apa yang ada di depannya; maka taruhlah sebuah pisau pada lehermu, jika engkau adalah seorang yang besar selera. Janganlah ingin akan semua makanannya yang lezat itu : karena sekaliannya itu adalah makanan yang menipu”. Amsal 23 : 1 - 3.

Di zaman Salomo hanya seorang raja yang biasa dapat menggunakan berbagai makanan-makanan lezat yang terbuat dari tepung putih, gula halus, dan makanan-makanan komersial (yang diperdagangkan) lainnya, namun mesin modern kini menghantarkan “makanan” penguasa itu sampai ke meja setiap orang; dan akibatnya dunia modern kini sedang hidup dari “makanan yang menyesatkan”, yaitu makanan yang tidak melengkapi tubuh dengan kebutuhan-kebutuhannya, sama seperti umpannya nelayan pada sebuah kail dan tali yang dikejar oleh ikan sebagai makanannya.

Buah adalah suatu makanan musim panas, yang dimaksudkan untuk menjaga kedinginan tubuh. Bahkan lebih daripada itu ia itu lebih merupakan makanan pencuci mulut daripada suatu menu makanan.

Pengalengan bahan-bahan makanan telah menjadi suatu rencana perusak kesehatan yang lain lagi, sebab kebanyakan orang mencoba untuk hidup dari barang-barang kalengan sepanjang tahun. Jika saudara menginginkan suatu kehidupan yang makmur dan berbahagia, maka tinggalkanlah kehidupan tiruan yang tidak berhukum dan demikian pula penyakit-penyakit dunia itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar